Kamis, 27 Oktober 2011

KOMODO DAN BANGSA YANG PENUH CURIGA?


Sebenarnya saya hampir menyesal karena sudah mual ikut-ikutan berpolemik soal voting untuk Tujuh Keajaiban Alam yang Baru ini. Sejak awal, saya yakin kalau peristiwa ini akan dijadikan wacana untuk tuduh sana tuduh sini. Kalau beberapa hari lalu saya menggunakan sebuah social media untuk mengajak teman-teman ikut serta, saya sebenarnya hanya ingin tahu, apa yang ada di benak mereka.

Hampir dua puluh tahun yang lalu, pertama kali saya mengunjungi Taman Nasional Komodo. Begitu menginjakan kaki di Labuan Bajo, kota pelabuhan kecil yang eksotis di ujung barat Pulau Flores dan jadi pintu gerbang utama Taman Nasional Komodo, saya langsung jatuh cinta. Pada kesederhanaan suasana. Pada panas udara. Semuanya. Saat berangkat, saya begitu ingin cepat tiba di Pulau Komodo, pulau utama di Taman Nasional yang diresmikan tahun 1980 itu. Enam tahun kemudian, UNESCO menetapkan Taman Nasional ini sebagai World Heritage Site dan Man and Biosphere Reserve. Sebelumnya, WWF dan Conservation International menetapkan sebagai bagian dari Global Conservation Priority Area karena terletak di kawasan Garis Wallacea. Jadi sejak dulu, Taman Nasional Komodo memang sangat popular di kalangan konservatoris dunia ; perorangan maupun lembaga.

                 Komodo ; dari film, craft hingga kartun (foto : Salazad.com. Hollywoodmovie.com, cartooneducation.org)

Pertama kali menginjakan kaki di Pulau Komodo, saya terkesima. Pulau itu eksotik luar biasa – untuk seorang manusia bodoh berumur 20 tahunan. Bentang alamnya berbukit-bukit, dihiasi hutan sabana-stepa yang tidak ada di pulau tempat asal saya, Jawa. Udaranya panas menyengat, namun hembusan angin laut, mampu menyejukkan hawa panas itu. Sepanjang jalan menuju Balai Taman Nasional di Loh Liang, saya tak henti-hentinya menggunakan kamera saya, meski tahu kalau apa yang saya lihat saat itu bukanlah atraksi utama yang ditawarkan Taman Nasional ini.

Begitulah. Empat hari selanjutnya, saya jatuh cinta tiap hari. Dan seperti kebanyakan manusia pengelana yang beruntung bisa melihat langsung paradok alam itu, saya merasa sangat beruntung. Ada semacam desakan dalam diri saya untuk meyakinkan diri bahwa keindahan dan kedahsyatan itu memang sengaja diciptakan Tuhan untuk manusia dengan tujuan tertentu. Entah apa.

Jadi, ketika berita Taman Nasional ini masuk menjadi peserta The New Seven Wonders of Nature bersama Danau Toba dan Krakatau, saya tersenyum. Ketiga-tiganya memang luar biasa. Krakatau adalah pulau vulkanik aktif. Dulu berbentuk gunung namun musnah oleh letusannya sendiri. Anda pasti sudah banyak mendengar soal kedahsyatan Krakatau ini. Lalu, Danau Toba. Ini juga gunung berapi. Meletus 3 kali antara 800-74 ribu tahun lalu. Danau Toba yang kita kenal sekarang adalah kaldera yang tercapta dari 3 letusan gunung raksasa itu. Terakhir, kawasan Taman Nasional Komodo, satu-satunya tempat di dunia yang menjadi habitat Varanus komodoensis.

Kalau tergantung saya, ketiga-tiganya harus jadi finalis.

Coba saja Anda perhatikan profil ke-28 finalis pemilihan ini. Ada beberapa yang menurut saya tidak layak atau masih kalah dahsyat dibanding ketiga keajaiban alam kita. Kalau ternyata hanya Komodo yang bisa masuk, ada beberapa penyebab. Yang pertama, Komodo memang sangat unik. Ia tidak ada duanya. Berbeda dengan Krakatau dan Toba yang ternyata punya beberapa pesaing. Kalau soal letusan, Krakatau kalah oleh Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Bahkan oleh letusan Gunung Tambora di Sumbawa pun, Krakatau ‘belum seberapa’. Sedangkan Toba fakta ilmiahnya masih harus dibuktikan. Memang makin banyak ahli yang setuju pada teori gunung berapi raksasa. Namun kata sepakatnya belum tercapai.

Jadi, meski kecewa, saya tetap tersenyum. Komodo, ujar saya dalam hati. Salah satu dari Tujuh Keajaiban Alam Dunia. Wow!

Pentingkah itu? Perlukah itu?

Tergantung siapa Anda. Untuk soal ini, saya sama sekali tidak tahu. Jadi saya tidak akan berkomentar apa-apa.

Bagi saya, bukan soal penting atau perlu. Bukan soal uang atau keuntungan. Bukan soal konservasi, pariwisata atau marjinalisasi. Bukan soal konspirasi atau transparansi. Bukan soal nasionalisme, globalisasi atau sukuisme. Bukan soal tetek bengek voting, short message service atau e-mail. Ini bahkan bukan soal Komodo! Ini soal kita. Bangsa kita, yang entah mengapa – mudah-mudahan saya salah – cenderung menjadi bangsa yang penuh curiga. Bangsa yang mendadak begitu ahli mencari-cari celah untuk mendapatkan sisi mencurigakan dari suatu masalah atau peristiwa. Bangsa yang tiba-tiba saja kehilangan semangat untuk berprasangka baik. Sebagai jurnalis, saya dilatih untuk itu ; mencari ketidaknormalan. Namun bukan dengan curiga atau prasangka buruk yang seringkali mengaburkan logika. Sebagai jurnalis saya dilatih untuk bersikap skeptis ; tidak mudah percaya namun tidak mudah pula menolak. Dasar untuk menerima atau menolak hanya satu ; fakta. Dan fakta itu, haruslah memiliki bukti yang lantas diuji.

Wajarlah kalau saya sedih membaca bagaimana tulisan dengan tema konservasi, konspirasi, marjinalisasi, nasionalisme dan sebagainya muncul mewarnai polemik ini. Padahal, tidak ada satu pun yang dengan jelas menunjukan fakta-fakta dan bukti-bukti bahwa isi tulisannya patut dipercaya. Walhasil, dukungan atau penolakan dari pembaca pun ikut-ikut ngawur. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya punya semua bukti dan fakta. Namun begitu ngawur-nya kebanyakan tulisan itu, hingga saya terheran-heran ; tidak ikut pun semua orang di dunia sudah tahu kalau komodo adalah kadal raksasa dan hewan prasejarah satu-satunya yang masih hidup! Jangan-jangan nanti kawasannya malah jadi rusak!

Wah!

Lalu ada yang seperti ini ; ini ide cemerlang mereka untuk masuk dan menguasai kekayaan Indonesia! Memang bangsa Indonesia mudah sekali dipermainkan nasionalismenya! Belajar saja dari kasus Candi Borobudur! Banyak cerita sedihnya dari pada senangnya!

Atau, ini ; saya makin yakin ada kongkalikong dan konspirasi bisnis terutama setelah saya tahu kalau penyelenggara kegiatan ini adalah lembaga bisnis semata. Mengapa penyelenggaranya bukan UNESCO atau PBB? Mencurigakan!

Juga yang ini ; daripada dipakai sms mending buat ngangkring atau membantu mengentaskan kemiskinan! Masih banyak orang kelaparan kok malah ngurusin komodo!

Betul kata Nabi saya ; ketika kau memelihara prasangka baik, dunia ini menjadi luas tak terkira. Tapi sebaliknya, jika prasangka buruk yang kau gunakan, dunia akan menyempit hingga dadamu terasa sesak!

Awalnya saya terpancing juga menjawab dengan mengemukakan pikiran cetek yang ada di kepala saya ; bung, Komodo bukan satu-satunya kadal raksasa! Bukan satu-satunya hewan prasejarah yang masih hidup! Juragan-juragan, Anda orang Ba*** kan? Orang Su*** bukan? Kalau Danau Toba dan Krakatau yang terpilih, juragan-juragan yakin nggak ikut voting? Nasionalisme itu memang tujuannya apa sih selain dipermainkan? Mbak, tahu tidak konspirasi terbesar di dunia yang terjadi tiap jam, tiap hari, tiap minggu dan Anda terjebak di dalamnya, menikmatinya, tergantung padanya, memujanya tanpa merasa menjadi korban bahkan merasa terbantu? Mas, memang kalau UNESCO atau PBB pasti benar dan tidak minta uang? UNESCO dan PBB yang mana ya yang tidak minta uang? Pak, bu, dik, kak,… sebenarnya cara apakah yang paling mujarab untuk mengentaskan kemiskinan dan kelaparan? Apakah karena masih ada orang miskin dan lapar di dunia ini, maka kehidupan lain tidak boleh berjalan?

Betul bukan! Saya pun ikut menjadi cetek!

Haruskah saya jelaskan kecetekan pikiran saya tadi? Nggak usahlah. Saya mau sms anak saya dulu ; Selamat malam Bthari sayang. Tidur yang nyenyak ya nak…



Jumat, 21 Oktober 2011

BAHAYA MSG/VETSIN BAGI ANAK-ANAK

MonoSodium Glutamat – MSG, atau sering disebut vetsin, sudah cukup lama dikenal masyarakat Indonesia. Merek dagangnya bermacam-macam, seperti AJI****** buatan Jepang, MI*** dari Korea serta beberapa merek lainnya. Semuanya mempunyai komposisi kimia yang sama yaitu MonoSodium Glutamate dengan rumus kimia HCOCCH (HN2) 2 COO-NA, yaitu hasil campuran asam Glutamat dan Natrium Hidroksid. Bahan paling penting untuk membuat MSG adalah asam Glutamat, berupa asam amino yang ada pada tumbuhan, hewan, minyak bumi dan pada tubuh manusia.

Di Indonesia, pabrik MSG membuat asam Glutamat dari Melase - gula tetes ; sisa gula tebu yang sudah tidak bisa menjadi kristal. Di negara yang tidak bisa ditanami tebu, asam Glutamat dibuat dari ganggang, gula bit, gandum, kedelai, tapioka, minyak bumi atau dibuatnya secara sintetis. Pembuatannya itu memerlukan teknologi tinggi serta modal yang tidak sedikit.

MSG dan Kesehatan
MSG mulai digunakan di Jepang tahun 1920 dan langsung meneybar ke seluruh dunia. Keajaiban zat yang membuat makana terasa lebih lezat ini, membuat MSG menjadi kartu As bagi industri makanan dan para pelaku bisnis makanan. Selama hampir 100 tahun itu pula, para ilmuwan sudah mengadakan berbagai percobaan untuk meneliti bahaya tidaknya MSG dengan uji coba pada anak ayam, anak bebek, kelinci dan monyet.

  • SHIMIZHU dkk, mengadakan penelitian pada tahun 1971 melaporkan bahwa MSG yang diberikan kepada anak ayam yang dicampurkan pada air minumnya menyebabkan matinya anak ayam tersebut karena kerusakan ginjal. 
  • GREENBERG dkk. mengadakan penelitian pada tahun 1973 melaporkan bahwa tikus kecil yang diberi pakan MSG diketahui sel-sel darah putihnya berubah menjadi sel-sel kanker. 
  • SNAPIR dkk. mengadakan penelitian pada tahun 1971 melaporkan bahwa anak ayam yang diberi MSG, jumlah sel otaknya berkurang 24% dibanding dengan anak ayam normal. 
  • Institut Penelitian Dan Pencegahan untuk Kesehatan Nasional, Kementerian Kesehatan Jepang mengadakan percobaan memberi larutan MSG 2% terhadap beberapa anak ayam. Semua anak ayam itu mati. 
  • BAPTIST dkk, mengadakan penelitian pada tahun 1974 di Singapore dan memperoleh kesimpulan MSG yang dikonsumsi di Singapura menyebabkan penyakit radang hati dan menurukan tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak. 
  • Dr. IWAN T. BUDIARSO, mengadakan penelitian yang hasilnya anak ayam dan anak bebek yang diberi MSG mati. Sedangkan pada anak ayam yang sudah agak besar muncul gejala-gejala tidak normal ; seperti yang dibius, jalannya tidak normal dan gejala lainnya. 

Dr. Achmad Ramli - Ketua Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara Departemen Kesehatan RI dan Kepala Balai Penelitian Kimia P.N. NUPIKAYASA - menyatakan bahwa MSG tidak menimbulkan bahaya terhadap kesehatan kalau dalam pemakaiannya sewajarnya. Hal ini masih terus diperdebatkan. Sementara World Health Organization – WHO, mengeluarkan rekomendesi berdasarkan hasil penelitian yang disampaikan pada sidang CODEX ALIMENTARY COMMISSION (CAC) tahun 1970. Isinya menyatakan bahwa jika MSG menjadi makanan sehari-hari, batasnya adalah 6 miligram/kilogram berat badan orang dewasa. Jadi kalau berat badan 50 kilogram, sehari tidak boleh mengkonsumsi lebih dari 2 gram.

Masalah Yang Ditutupi
Industri MSG adalah industri trilyunan dollar. Ini karena MSG menjadi sebuah kunci rahasia kesuksesan industri makanan kaleng dan makanan siap saji. Maka wajar saja jika keberadaan MSG tidak lantas bisa dikesampingkan begitu saja. Bukan rahasia bahwa telah terjadi konspirasi antara industri MSG, industri makanan dan pemerintah soal. ini. Di Amerika misalnya, pemerintahan George W. Bush pernah mendorong rancangan undang-undang ; Personal Responsibility in Food Consumption Act - juga dikenal sebagai Cheesburger Bill. Rancangan Undang-Undang ini melarang orang untuk menggugat pabrik dan industri makanan, penjual dan penyalurnya.

Ketidakpedulian pemerintah - juga media massa, diperparah dengan tindakan industri makanan dna minuman yang kerap menyembunyikan informasi kandungan zat dalam produknya, terutama menyangkut MSG dan bahan pemanis serta pengawet makanan. Padahal The Three Stooges of Modern Food ini - mengutip dr. Jay Michael Wilmant, pakar kesehatan yang amat anti MSG, memiliki benang merah sebagai penyebab kerusakan yang sama ; kerusakan fungsi syaraf, tidak peduli pada orang dewasa atau anak-anak. Ini memicu beragam jenis penyakit lain yang telah disebutkan tadi selain penurunan fungsi kontrol emosional secara permanen.

Sialnya lagi, aksi penyembunyian informasi ini diikuti oleh kalangan bisnis yang bergelut di bidang makanan. Anda rasanya hampir tidak bisa menemukan rumah makan yang sama sekali tidak menggunakan MSG dalam menunya. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak MSG yang masuk ke tubuh seorang dewasa yang terpaksa mengkonsumsi makanan dari industri dan bisnis ini setiap hari. Industri makanan siap saji merupakan pihak yang dianggap paling banyak menggunakan MSG. Beberapa penelitian bahkan bisa membuktikan penggunaan MSG yang berlebihan dalam industri dan bisnis makanan dilakukan untuk menimbulkan efek kecanduan.

Berhenti Sebelum Kecanduan
MSG  bisa menimbulkan gejala alergi atau keracunan yang disebut Chinesse Restaurant Sindrome : pusing, mual, muntah-muntah dan menimbulkan sakit pada dada seperti terserang penyakit jantung. MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan. MSG juga menjadi biang kerok munculnya Alzheimer, Parkinson, ALS  dan penyakit kegegalan fungsi syaraf lainnya. Meskipun dipercaya bisa menimbulkan kecanduan, efeknya berbeda bagi tiap orang. Namun aturan pencegahannya terbaik tetap dengan mengurangi kebiasaan makan makanan berupa produk olahan.

Maka biasakanlah untuk menerapkan aturan ketat penggunaan bahan ini di lingkungan keluarga. Aturan itu, misalnya :

  • Gunakan bumbu tradisional ; jahe, lada, cabai, serai, garam dan sebagainya. Selama ribuan tahun manusia mampu menciptakan beragam jenis masakan yang tidak kalah lezat dengan bumbu-bumbu tradisional ini. 
  • Jika terpaksa menggunakan MSG,  gunakan sesuai takaran yang sudah ditentukan ; maksimal 6 miligram/kilogram berat badan untuk orang dewasa. 
  • Anak-anak sebaiknya tidak mengkonsumsi MSG. Terutama anak-anak dibawah umur 3 tahun. Sekali lagi, gunakan bumbu tradisional. Anak-anak yang terbiasa tidak menggunakan MSG justru kerap tidak menyukai makanan dengan tingkat kandungan MSG berlebihan
  • Ibu yang sedang mengandung sebaiknya tidak mengkonsumsi MSG. Ingat, MSG mengendap dalam darah dan beberapa penelitian mengatakan bahwa kadungan ini tidak ikut dikeluarkan dari tubuh.
  • Hindari makanan dan minuman yang mengandung pengawet, pewarna dan pemanis buatan.
  • Jangan terlalu percaya pada label NO MSG pada bungkus makanan instant atau makanan awetan lainnya. MSG disembunyikan dengan banyak nama yang justru menyesatkan. Beberapa nama zat makanan ini kerap digunakan sebagai samaran untuk MSG, pemanis buatan dan pengawet : protein sayuran atau tanaman hydrolized, sodium dan calsium casainate, minyak jagung, natural flavors, seasoning, spices, soy protein concentrate dan sebagainya.
Para ahli, pemerhati kesehatan, wartawan, juga mereka yang pernah merakan dampak buruk MSG menyadari kondisi sulitnya masyarakat untuk terbebas secara penuh dari ancaman MSG. Namun mereka juga percaya bahwa satu-satunya cara untuk melawan ancaman ini adalah dengan membebaskan ketergantungan penggunaan MSG di lingkungan keluarga lebih dulu.