Di Indonesia, pabrik MSG membuat asam Glutamat dari Melase - gula tetes ; sisa gula tebu yang sudah tidak bisa menjadi kristal. Di negara yang tidak bisa ditanami tebu, asam Glutamat dibuat dari ganggang, gula bit, gandum, kedelai, tapioka, minyak bumi atau dibuatnya secara sintetis. Pembuatannya itu memerlukan teknologi tinggi serta modal yang tidak sedikit.
MSG dan Kesehatan
MSG mulai digunakan di Jepang tahun 1920 dan langsung meneybar ke seluruh dunia. Keajaiban zat yang membuat makana terasa lebih lezat ini, membuat MSG menjadi kartu As bagi industri makanan dan para pelaku bisnis makanan. Selama hampir 100 tahun itu pula, para ilmuwan sudah mengadakan berbagai percobaan untuk meneliti bahaya tidaknya MSG dengan uji coba pada anak ayam, anak bebek, kelinci dan monyet.
- SHIMIZHU dkk, mengadakan penelitian pada tahun 1971 melaporkan bahwa MSG yang diberikan kepada anak ayam yang dicampurkan pada air minumnya menyebabkan matinya anak ayam tersebut karena kerusakan ginjal.
- GREENBERG dkk. mengadakan penelitian pada tahun 1973 melaporkan bahwa tikus kecil yang diberi pakan MSG diketahui sel-sel darah putihnya berubah menjadi sel-sel kanker.
- SNAPIR dkk. mengadakan penelitian pada tahun 1971 melaporkan bahwa anak ayam yang diberi MSG, jumlah sel otaknya berkurang 24% dibanding dengan anak ayam normal.
- Institut Penelitian Dan Pencegahan untuk Kesehatan Nasional, Kementerian Kesehatan Jepang mengadakan percobaan memberi larutan MSG 2% terhadap beberapa anak ayam. Semua anak ayam itu mati.
- BAPTIST dkk, mengadakan penelitian pada tahun 1974 di Singapore dan memperoleh kesimpulan MSG yang dikonsumsi di Singapura menyebabkan penyakit radang hati dan menurukan tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak.
- Dr. IWAN T. BUDIARSO, mengadakan penelitian yang hasilnya anak ayam dan anak bebek yang diberi MSG mati. Sedangkan pada anak ayam yang sudah agak besar muncul gejala-gejala tidak normal ; seperti yang dibius, jalannya tidak normal dan gejala lainnya.
Dr. Achmad Ramli - Ketua Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara Departemen Kesehatan RI dan Kepala Balai Penelitian Kimia P.N. NUPIKAYASA - menyatakan bahwa MSG tidak menimbulkan bahaya terhadap kesehatan kalau dalam pemakaiannya sewajarnya. Hal ini masih terus diperdebatkan. Sementara World Health Organization – WHO, mengeluarkan rekomendesi berdasarkan hasil penelitian yang disampaikan pada sidang CODEX ALIMENTARY COMMISSION (CAC) tahun 1970. Isinya menyatakan bahwa jika MSG menjadi makanan sehari-hari, batasnya adalah 6 miligram/kilogram berat badan orang dewasa. Jadi kalau berat badan 50 kilogram, sehari tidak boleh mengkonsumsi lebih dari 2 gram.
Masalah Yang Ditutupi
Industri MSG adalah industri trilyunan dollar. Ini karena MSG menjadi sebuah kunci rahasia kesuksesan industri makanan kaleng dan makanan siap saji. Maka wajar saja jika keberadaan MSG tidak lantas bisa dikesampingkan begitu saja. Bukan rahasia bahwa telah terjadi konspirasi antara industri MSG, industri makanan dan pemerintah soal. ini. Di Amerika misalnya, pemerintahan George W. Bush pernah mendorong rancangan undang-undang ; Personal Responsibility in Food Consumption Act - juga dikenal sebagai Cheesburger Bill. Rancangan Undang-Undang ini melarang orang untuk menggugat pabrik dan industri makanan, penjual dan penyalurnya.
Ketidakpedulian pemerintah - juga media massa, diperparah dengan tindakan industri makanan dna minuman yang kerap menyembunyikan informasi kandungan zat dalam produknya, terutama menyangkut MSG dan bahan pemanis serta pengawet makanan. Padahal The Three Stooges of Modern Food ini - mengutip dr. Jay Michael Wilmant, pakar kesehatan yang amat anti MSG, memiliki benang merah sebagai penyebab kerusakan yang sama ; kerusakan fungsi syaraf, tidak peduli pada orang dewasa atau anak-anak. Ini memicu beragam jenis penyakit lain yang telah disebutkan tadi selain penurunan fungsi kontrol emosional secara permanen.
Sialnya lagi, aksi penyembunyian informasi ini diikuti oleh kalangan bisnis yang bergelut di bidang makanan. Anda rasanya hampir tidak bisa menemukan rumah makan yang sama sekali tidak menggunakan MSG dalam menunya. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak MSG yang masuk ke tubuh seorang dewasa yang terpaksa mengkonsumsi makanan dari industri dan bisnis ini setiap hari. Industri makanan siap saji merupakan pihak yang dianggap paling banyak menggunakan MSG. Beberapa penelitian bahkan bisa membuktikan penggunaan MSG yang berlebihan dalam industri dan bisnis makanan dilakukan untuk menimbulkan efek kecanduan.
Berhenti Sebelum Kecanduan
MSG bisa menimbulkan gejala alergi atau keracunan yang disebut Chinesse Restaurant Sindrome : pusing, mual, muntah-muntah dan menimbulkan sakit pada dada seperti terserang penyakit jantung. MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan. MSG juga menjadi biang kerok munculnya Alzheimer, Parkinson, ALS dan penyakit kegegalan fungsi syaraf lainnya. Meskipun dipercaya bisa menimbulkan kecanduan, efeknya berbeda bagi tiap orang. Namun aturan pencegahannya terbaik tetap dengan mengurangi kebiasaan makan makanan berupa produk olahan.
Maka biasakanlah untuk menerapkan aturan ketat penggunaan bahan ini di lingkungan keluarga. Aturan itu, misalnya :
- Gunakan bumbu tradisional ; jahe, lada, cabai, serai, garam dan sebagainya. Selama ribuan tahun manusia mampu menciptakan beragam jenis masakan yang tidak kalah lezat dengan bumbu-bumbu tradisional ini.
- Jika terpaksa menggunakan MSG, gunakan sesuai takaran yang sudah ditentukan ; maksimal 6 miligram/kilogram berat badan untuk orang dewasa.
- Anak-anak sebaiknya tidak mengkonsumsi MSG. Terutama anak-anak dibawah umur 3 tahun. Sekali lagi, gunakan bumbu tradisional. Anak-anak yang terbiasa tidak menggunakan MSG justru kerap tidak menyukai makanan dengan tingkat kandungan MSG berlebihan
- Ibu yang sedang mengandung sebaiknya tidak mengkonsumsi MSG. Ingat, MSG mengendap dalam darah dan beberapa penelitian mengatakan bahwa kadungan ini tidak ikut dikeluarkan dari tubuh.
- Hindari makanan dan minuman yang mengandung pengawet, pewarna dan pemanis buatan.
- Jangan terlalu percaya pada label NO MSG pada bungkus makanan instant atau makanan awetan lainnya. MSG disembunyikan dengan banyak nama yang justru menyesatkan. Beberapa nama zat makanan ini kerap digunakan sebagai samaran untuk MSG, pemanis buatan dan pengawet : protein sayuran atau tanaman hydrolized, sodium dan calsium casainate, minyak jagung, natural flavors, seasoning, spices, soy protein concentrate dan sebagainya.
Para ahli, pemerhati kesehatan, wartawan, juga mereka yang pernah merakan dampak buruk MSG menyadari kondisi sulitnya masyarakat untuk terbebas secara penuh dari ancaman MSG. Namun mereka juga percaya bahwa satu-satunya cara untuk melawan ancaman ini adalah dengan membebaskan ketergantungan penggunaan MSG di lingkungan keluarga lebih dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar