Kamis, 16 Mei 2013

MENJADI dan MENGERTI


Tiga puluh tahun lalu, saat gemar-gemarnya membaca, saya dan adik perempuan pertama saya, kerap menunggu koran langganan ayah sebelum mandi dan berangkat ke sekolah. Kami biasa berbaring terlentang di lantai, membuka halaman demi halaman koran yang jumlahnya hanya 12 lembar. Tidak, kami tidak membaca semua isinya. Kami hanya membaca judul dan menikmati gambar-gambar yang tercetak di situ.

Malam hari, biasanya ayah membaca koran di tempat tidurnya. Ia bisa menghabiskan berjam-jam waktunya sebelum tidur untuk itu. Saya kerap heran, sebegitu menarikkah isi tulisan dalam koran? Apa sebenarnya isinya? Dan ayah hanya menjawabnya dengan santai, “Ini berita. Informasi dari peristiwa yang terjadi kemarin.” Tentu saja saya tidak lantas paham. Sebuah pengalaman soal itu terjadi kemudian, tapi saya tak ingin menuliskannya di sini.

Jika lantas saya ingin menjadi wartawan, itu bukan karena jawaban ayah atau peristiwa apapun. Saya ingin menjadi wartawan karena berbagai alasan yang terus berkembang. Kelak saya bahkan merasa tidak lagi perlu mengerti soal itu. Menjadi adalah sebuah proses. Menjadi adalah sebuah pilihan. Bagaimana Anda bisa menjelaskan eksistensi diri Anda saat ini, jika Anda sadar bahwa eksistensi itu terus berkembang dan berkembang?

Menjadi wartawan adalah keinginan saya. Pilihan yang saya ambil dari sekian banyak pilihan. Menjalaninya adalah keputusan berbeda. Begitu juga dengan menekuninya dan memperjuangkan nilai-nilainya. Saya tidak selalu berhasil. Tidak selalu gagal pula. Saya berhenti menghitung soal keberhasilan dan kegagalan belasan tahun lalu semenjak saya sadar bahwa hidup bukan matematika. Hidup adalah serangkaian pilihan dan saya sudah mengambil dan menjalaninya. Berkali-kali.

Jadi, saya tahu betul soal konsekuensi pilihan itu. Saya menerimanya. Kadang dengan ikhlas. Tak jarang melalui pertempuran (yang jarang pula saya menangkan). Sebab konsekuensi-konsekuensi itu selalu hadir hanya dengan dua bentuk ; kegembiraan dan kepahitan. Jika saya tetap memilih menjadi wartawan, alasannya sederhana ; saya belum menemukan titik untuk berhenti. Bahkan ironi-ironi kehidupan wartawan pun belum cukup menyentuh saya untuk berbalik dan menempuh jalan lain. Mungkin Pulitzer benar ; “Para Presiden dan para Jendral datang dan berkuasa silih berganti. Tapi seorang wartawan, akan selalu menjadi wartawan.”

Karena itulah, saya tidak pernah takut menanggalkan kartu pers saya. Menulis surat mengundurkan diri atau menerima surat pemecatan. Buat saya, kartu pers dan slip gaji hanya atribut. Begitupun, saya juga tidak pernah menolak kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah lembaga kewartawanan meski konsekuensinya untuk pribadi tidak terlalu menyenangkan. Buat saya kredo menjadi wartawan  itu sederhana ; kejujuran. Kata sederhana itu melahirkan banyak hal ; keberanian, loyalitas juga kerendah-hatian. Semua itu membentuk integritas. Jika Anda sudah memilikinya, sebagai wartawan, Anda tak perlu lagi khawatir soal apapun.

Dan tidak, saya bukan idealis. Saya tidak pernah menjadi idealis. Saya realis yang bahkan masih sering terheran-heran pada realita. Begitu terheran-herannya sampai saya tidak sadar bahwa realita itu juga kerap terjadi pada diri saya. Tapi saya tidak menyesalinya. Jika saya menyesal, mestinya itu saya lakukan sejak lulus kuliah dulu. Sudah terlambat untuk itu. Itu sebabnya jika realita itu akhirnya benar-benar datang dan saya tidak menyukainya, saya dengan sadar menepikan diri. Buat saya, dunia terlalu luas untuk memperjuangkan hanya sebuah realita. Apalagi jika realita itu dipenuhi kebodohan dan keangkuhan yang membabi-buta. Saya bersedia berjuang melawan itu jika pertempurannya adil, mesti jarang dan mungkin tidak akan pernah terjadi. Sebab, pertempuran yang tidak adil selalu membawa korban lain yang tidak perlu. Saya tidak menyukai hal itu. Menjalani pertempuran seperti itu, akhirnya hanya membuat kita sama buruknya dengan apa yang kita perangi.

Lebih duapuluh lima tahun lalu, di puncak sebuah gunung, saya belajar dengan cara sederhana dan murni soal arti kata berhenti dan kembali. Saya belajar bahwa dalam hidup, berhenti dan kembali tidak selalu bisa ditandai dengan patok triangulasi atau koordinat peta. Berhenti dan kembali adalah soal rasa dan naluri. Soal logika. Juga soal keputusan pada pilihan. Dan lagi-lagi, ada konsekuensi setelah keputusan dan pilihan itu. Saya hanya harus bersiap menerimanya sekali lagi. Untuk kemudian bersiap memilih kembali.

Suatu hari, di ruang tengah rumah ayah, putri kecil saya sibuk memencet-mencet tombol laptop milik kakeknya. Ayah yang duduk di kursi yang sama, mengelus rambutnya sambil bertanya ; “Kamu mau jadi apa nanti?” Istri saya yang kebetulan lewat menjawab ringan, “Mau jadi wartawan kek. Kayak ayah.” Dari ruang tamu tempat saya duduk membaca buku, saya bisa dengar ucapan ayah dengan jelas ; “Jangan! Jangan jadi wartawan,” ucap ayah. Singkat. Dan datar.

Saya tersenyum diam-diam. Mengingat kembali saat-saat ayah dan ibu dengan tatapan bangga mengiringi saya tiap kali pamit berangkat meliput ini itu. Atau saat bercerita perihal pengalaman di sana dan di sini, berdebat soal peristiwa yang terjadi pada hidup, dunia dan manusia. Saya tahu, hidup adalah perubahan. Ayah mungkin memilih untuk berubah. Dan saya menghormati pilihan itu. Namun, saya juga yakin, jika kelak cucunya benar-benar menjadi wartawan, ia akan mempersilahkan saya untuk merasa bangga. Bukan bangga menjadi wartawan. Tapi bangga menjadi manusia yang mengerti pada pilihannya.

Tapi itu masih cukup lama. Saya masih harus menunggu...

Selasa, 05 Juni 2012

BTHARI, AIRSOFT, NVG DAN KODOK DI SAWAH


Tahu dong airsoft-gun. Ini hobi bagi military enthusiast. Konsep hobi ini terus berkembang sejak pertama kali ditemukan dan dilakoni. Gara-garanya pelarangan pemilikan senjata api di Jepang pada 1970-an, yang membuat diciptakannya replika senjata dengan peluru plastik. Awalnya cuma digunakan untuk perang-perangan. Lalu, entusiasme ini berkembang. Selain replika senjata yang makin mirip, para pelakunya juga meniru operator militer dari elemen pakaian, perlengkapan hingga taktik perang. Tahun 1990-an hobi ini merambah Amerika sebelum kemudian merambah dunia, termasuk Indonesia.

Bicara airsoft memang bisa sangat panjang. Sebab hobi ini, terus menerus berkembang sampai pada taraf yang mencengangkan. Dulu replika senjata berkerja dengan sistem spring – per, pegas. Sekarang ada yang bekerja dengan gas bahkan batere listrik. Peralatan dan uniform untuk airsoft-gun pun berkembang makin beragam, Rasanya, tidak ada elemen militer – dalam tingkat individu, setahu saya – yang tidak dikopi oleh para airsofter. Memang tercatat penggunaan truk, bahkan tank, dalam skirmish – di Amerika dan Swedia. Tapi tentu saja, cuma untuk menciptakan atmosfir “perang beneran”.

Soal skirmish – istilah yang paling sering digunakan untuk aksi perang-perangngan selain MilSym – Military Simulation, ada banyak peran yang bisa dipilih oleh para airsofter. Tergantung skenarionya. Tergantung eventnya. Di skirmish militer modern atau, katakanlah, Perang Dunia II dan Perang Vietnam, peran regular army, special forces sampai snipers, bisa dipilih. Teori dan skenarionya sih, peran mereka berbeda. Tapi, percayalah, pada prakteknya, seringkali amburadul. Maklum, semirip-miripnya airsofter, mereka tetap bukan professional operator.

Skirmish atau MilSim, bisa berlangsung beberapa jam, bahkan beberapa hari di lokasi yang sudah disepakati. Di sinilah para airsofter yang sudah dibagi menjadi kubu-kubu terpisah saling adu tembak, adu strategi, adu teriak, adu ledek sekaligus cekikikan dan menjerit kesakitan kalau terhantam BB – peluru plastik bulat berukuran normal 6-8 mm, di bagian tubuh yang tidak terlindungi. Tentu saja, meski relatif aman, ada standar keamanan dan keselamatan yang mesti dipatuhi para airsofter. Jadi, selain untuk entusiasme, peralatan dan uniform yang digunakan para airsofter pun berfungsi sebagai pelindung.

Kalau bicara peran, saya memilih jadi sniper. Makanya, sejak awal ikut-ikutan hobi ini, saya langsung mengincar replika sniper-rifle. Berhubung newbie tapi sok tahu, saya langsung mencari sniper-rifle idaman saya ; M14, Remington 700 atau Vintorez SS. Syukur-syukur kalau bisa dapat yang klasik macam Moshin Nagant, Garant M1C-D atau Mauser K98 dan Gehwer G43 yang legendaris itu. Hasilnya, “Emangnya yang punya pabrik babe lu!” kata teman saya, airsofter senior yang saya tanya-tanya soal itu. “Udah, pake M16 gue aja! Sok gaya lu!” ucapnya lagi sembari menyodorkan replika unit itu. Ternyata jenis-jenis sniper-rifle tadi  belum ada di pasaran waktu itu. Entah sekarang. Jenis paling popular yang ada saat itu adalah Dragunov dan L96 Accuracy International. Meski kecewa, barang second yang entah berapa kali dimodifikasi itu pun saya beli juga akhirnya.  Selain sniper-rifle, saya juga membeli ghillie suit, uniform dan tactical vest – rompi tempur, yang sepertinya cocok untuk peran yang saya pilih. Tentu saja, peralatan keamanan macam goggles, glove dan tetek bengek lainnya terpaksa dibeli pula. Syukurlah, semuanya second. :p

Niat saya saat itu cuma ingin perang-perangan. Titik. Jadi, istilah geardo – entusias yang getol meniru operator asli, collector dan aliran airsofter lain, tidak terlalu menarik minat saya. Dan, keinginan saya tadi terkabul saat mengikuti skirmish pertama kali. Karena bukan klub resmi, kami bersepuluh memilih kawasan Situ Gunung sebagai areanya. Skenarionya sederhana ; 2 X 24 jam, five on five, deathmatch! Benar-benar seenaknya, karena bahkan pihak Taman Nasional tidak tahu kalau ada 10 sniper palsu sedang sok bergerilya di situ. Yang ini, jangan ditiru! Bergabunglah dengan klub. Bermainlah di area khusus yang sudah disepakati dan diizinkan. Ini menyangkut keamanan, keselamatan dan kesadaran untuk tidak membuat orang lain jantungan dan terkaget-kaget!

Kembali lagi, ternyata, jadi sniper itu menyebalkan! Terutama jika lawannya pun sniper! Jangan membayangkan perang seru ala film Enemy At The Gates, Shooter atau Sniper-nya Tom Berenger. Boro-boro seru. Yang pertama, kami harus (sok) invincible. Jadi awalnya, berjalan pun harus menunduk-nunduk, merayap atau merangkak. Padahal belum tentu ada musuh yang mengincar. Selain itu, udara di kawasan yang dingin pada malam dan dini hari, membuat kami lupa prinsip-prinsip sniper ; no light, no smoke, no sound, nothing! Semuanya dilanggar. Terutama no smoke ; karena 8 dari 10 sniper gadungan itu perokok berat dan penikmat kopi  yang pasti merasa berdosa kalau tidak membuat api unggun, menyeduh kopi  dan mengisap rokok di udara dingin pegunungan. Walhasil, dua malam itu, yang terjadi bukan perang sniper, tapi camping dan hiking sambil membawa unit airsoft. :D

Masalahnya adalah area tempur yang terlalu luas. Tujuan sekenario yang terlalu umum ; kill every enemy, dan waktu yang terlalu lama untuk para pemula. Setelah 2 X 24 jam itu, tidak ada yang tewas dengan sukses. Hanya sekali terjadi kontak dan 10-15 kali tembakan asal-asalan karena masing-masing kubu langsung sibuk “menghilangkan-diri”. Setelah semua usai dan kami berkumpul, barulah disadari bahwa selama 48 jam itu, kami ternyata lebih sering dipisahkan oleh 2 buah bukit! Lha, bagaimana mau perang? Hhuh, sudah merayap-rayap pula!

Sekarang, setelah dua tahun, saya memandang airsoft sebagai sebuah hobi yang menyenangkan karena ya memang menyenangkan. Terutama jika Anda easy-goers yang ingin menikmati suasana berbeda dari kehidupan sehari-hari. Memang, kalau sekedar berbeda, ada banyak pilihan. Namun, airsoft juga menawarkan banyak hal positif. Misalnya belajar untuk bersikap tenang, strategis dan efektif serta disiplin. Terutama disiplin menabung, karena airsoft relatif butuh budget yang cukup besar jika ingin tampil keren. Saya untungnya manusia yang simple. Jadi ya, simple saja. Kalau ada biaya lebih, ya beli. Kalau tidak, ya ngerayu teman untuk barter saja. Keren kan?! :P

Tapi soal kekonyolan-kekonyolan, sampai saat ini masih sering terjadi. Di area skirmish, pernah lho saya menembaki posisi  spotter saya – partner sniper yang bertugas membantu membidik sasaran dan melindungi main shooter jika terjadi intense fire-fight – gara-gara ia kebelet pipis tapi tidak memberi tahu. Hasilnya, spotter saya itu balas menembak – karena mengira saya musuh sambil memanggil-manggil  minta bantuan.  Tentu saja, lewat radio, saya membalas dengan panik, “Under fire, under fire!” Benar-benar tolol! :D

Kekonyolan terbaru terjadi belum lama ini. Putri kecil saya, Bthari, tampaknya sangat penasaran pada peralatan airsoft saya, terutama pada IBH Helmet plus NVG yang nangkring di situ. Tiap kali saya membenahi peralatan airsoft, ia selalu memperhatikan dengan pancaran mata ingin tahu. Saat itu saya sibuk mengutak-atik side-arm yang terjatuh ke lumpur dan membiarkan helmet dan NVG yang juga akan saya bersihkan, tergeletak di atas lantai. Bthari sampai menunggingkan tubuh mungilnya untuk mengintip helmet itu dari depan. "Itu NVG nak," ujar saya sambil menahan tawa. "Night Vision Goggle. Kalau pakai itu, adek bisa melihat kodok lagi nyanyi di sawah malam-malam!" Tahu apa yang terjadi? Ia menarik NVG itu lalu menyeretnya (berikut helmetnya) di atas lantai, berlari ke teras rumah! "Ayaaah... kodoknya lucu," teriaknya tanpa dosa sambil menunjuk ke arah sawah di depan rumah. Ampuuun... untung helmet dan NVG second dan murah!

Kalau saya menyukai peran sniper itu bukan karena saya jagoan menembak, tapi karena kebanyakan peran ini hanya perlu nyumput (bahasa Sunda ; ngumpet, Red.) dan tidak perlu lari-lari sembari teriak-teriak. Dan helmet ber-NVG - saya beli karena kepengen gaya - memang menurut saya kurang cocok untuk peran itu. Mungkin sudah waktunya ayah jual ya dek. Uangnya kita pakai buat beli snipers camouflage-suit... berbentuk kodok! Pasti ayah selamat sehat wal-afiat. Kan, airsofter dilarang menembak hewan! :D

Kamis, 08 Maret 2012

KAMI TIDAK BOLEH TIDAK DIDENGAR!


Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yang terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morgan Geisler, Michelle Quiq dan saya sendiri.

Kami menggalang dana untuk bisa datang ke sini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada Anda sekalian, orang dewasa, bahwa Anda harus mengubah cara Anda, hari ini, di sini. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya memperjuangkan masa depan saya. Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang.

Saya berada di sini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.
Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya.
Kami tidak boleh tidak di dengar!

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan ozon. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya dijangkiti kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut  masih ada untuk dilihat oleh anak saya nanti.

Apakah Anda sekalian khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika Anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin Anda sekalian menyadari bahwa Anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan Salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.

Jika Anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Tolong berhenti merusaknya!

Di sini Anda adalah delegasi negara-negara Anda.
Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya Anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan Anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan pemborosan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya. Beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara maju tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita. Kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang cukup - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil ini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Salah satu anak tersebut berkata kepada kami: “Aku berharap aku kaya. Dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”

Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya. Bahwa tempat kelahiran Anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang Timur Tengah atau pengemis di India.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di Taman Kanak-Kanak, Anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak.

Lalu mengapa Anda kemudian melakukan hal yang Anda ajarkan pada kami supaya tidak  dilakukan itu?

Jangan lupakan mengapa Anda menghadiri konferensi ini. Mengapa Anda melakukan hal ini ;  kami adalah anak-anak anda semua.
Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan “Semuanya akan baik-baik saja”,
“Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan” dan 
“Ini bukanlah akhir dari segalanya”.

Tetapi saya tidak merasa bahwa Anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas Anda semua?

Ayah saya selalu berkata “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu bukan oleh kata-katamu.”
Apa yang Anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.
Sekarang, saya menantang Anda, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Terima kasih atas perhatiannya.





Severn Cullis-Suzuki, lahir di Vancouver, Kanada pada 30 November 1979, berusia 12 tahun ketika ia berpidato di Konferensi Bumi Perserikatan Bangsa-Bangsa – UN Earth Summit, di Rio de Janerio, Brazil 1992. Pidato tanpa teks selama 6 menit itu membungkam ruang  konferensi, sebelum di akhir pidato, seluruh peserta berdiri dan memberinya standing-ovation. Video rekaman pidato ini ditonton lebih dari 4.7 juta kali di YouTube.
Kini, ia berusia 33 tahun, menikah dan  memiliki anak dan menjadi aktivis lingkungan hidup. Ia menamatkan kuliahnya di Yale University jurusan Ekologi dan Biologi Evolusioner. Buku pendeknya berjudul Tell The World, berisi pidato dan kisahnya mendirikan ECO - ia mendirikan ECO saat berusia 9 tahun.. Ia juga ikut membidani Skyfish Project, sebuah lembaga think-tank untuk masalah lingkungan hidup.


SI BANCI YANG SULIT DICARI

Awalnya begini ; seekor bebek pejantan, mungkin sedang kehilangan daya tarik seksualnya. Jadi, tidak ada seekorpun bebek betina yang mau dibuahi. Berabe nih, pikir si pejantan risau. Masalahnya musim kawin sudah hampir lewat. Sementara berkwek-kwek menarik perhatian para betina, mendadak serombongan entog betina lewat. Anda tahu dong entog. Beda dengan bebek yang berjalan cepat, para entog biasa berjalan santai, sambil menggoyang-goyangkan tubuh dan ekor mereka.

Lirik punya lirik, goyangan para entog itu menarik perhatian si pejantan. Masa bodoh ah, pikirnya. Nggak ada bebek, entog pun jadi. Tanpa banyak kwek-kwek, si pejantan langsung pasang bebek-beb... eh, kuda-kuda. Berhubung tidak menyangka akan “dilecehkan secara seksual”, para entog itu hanya bisa pasrah. Dan, begitulah… Singkat cerita, entog-entog itu bertelur. Saat menetas, dari telur-telur itu muncul bebek-bebek muda. Biasanya bulu-bulu halus mereka berwarna coklat muda. Tapi ada beberapa yang berwarna beda ; pada bulu berwarna kecoklatan itu terdapat semburat putih dan juga kuning. Para entog tidak menaruh curiga. Namanya juga interasial, ucap mereka dalam hati. Pasti ada yang berbeda. Lagipula, perbedaan itu indah bukan?

Beberapa bulan kemudian, bebek-bebek berwarna beda ini mulai menampakan perbedaan lain. Mereka enggan kawin padahal umur mereka sudah cukup untuk itu. Meski berbeda orientasi seksual, tapi para bebek frigid ini tetap bergaul bersama bebek lain. Mencari makan sambil bergosip atau berkomentar soal Pemilukada. Para bebek memang tidak peduli. Tapi si pemilik punya pikiran lain. Jika tidak mau kawin, berarti tidak bisa bertelur. Lha, lantas apa nilai ekonominya? Ya, tidak lain, dagingnya. Seekor bebek yang sial pun ditangkap. Hidupnya selesai di ujung pisau sang pemilik yang lantas menggoreng dagingnya. Dilalah, rasanya lezat! Lebih lezat dari daging bebek biasa. Dan tidak berbau amis. Maka, cerita tentang daging lezat bebek unik ini pun tersebar…

Baiklah, saya akui, itu cerita imajinasi saya saja. Tapi soal bebek dan entog serta keturunan silang mereka serta kelezatan dagingnya, fakta adanya. Bisa dicoba. Nama bebek persilangan itu Blengong. Itu nama umum di Brebes, kabupaten yang memang menjadi sentra peternakan bebek dan telur asin. Di daerah lain, nama bebek silang ini berbeda.



Adalah pasangan Atmo dan Sairoh, penduduk Dusun Lembarawa, Brebes yang memutuskan untuk berjualan Blengong Goreng. Dipadu bumbu yang diracik sendiri, Blengong Goreng mereka terkenal seantero Brebes bahkan hingga Semarang dan Surabaya.Bupati, Camat dan petinggi Pemerintah Daerah lainnya, kerap menyambangi rumah - yang mereka sulap menjadi warung sederhana – untuk menikmati Blengong Goreng mereka. Sebanyak 50 ekor Blengong bisa habis hanya dalam waktu 3 hari. Padahal, dibanding harga daging bebek, harga daging Blengong relatif lebih mahal. “Kalau sedang ramai, tidak jarang kami kehabisan stok,” aku mereka.

Lho, kenapa tidak diternak saja sih?

Ya ndak bisa mas, jawab mereka dalam logat Pantai Utara Jawa yang kental. Blengong itu bebek bencong. Banci. Mereka tidak mau kawin. Oke, kalau begitu kawinkan saja bebek dan entog secara teratur. Ya, ndak bisa juga mas. Pertama mereka belum tentu klik… chemical reaction-nya belum tentu cocok. Okelah, cinta (dan nafsu) itu buta. Tapi nggak gitu-gitu amat kali… Lagipula, dari tiap telur yang dihasilkan oleh perkawinan silang itu, belum tentu lahir Blengong. Bisa saja lahir bebek sejati, yang straight sex oriented.

Oke. Jadi ini soal takdir. Maksud saya, ini soal bisnis kecil kuliner yang berbasis pada takdir!

Jadi wajar saja kalau Atmo dan Sairoh memutuskan untuk tidak mengikuti pakem umum dalam dunia bisnis. Mereka tidak ingin mengembangkan bisnis mereka ke skala yang lebih besar, mereka bahkan enggan untuk, misalnya membuat warung di tengah kota Brebes sehingga mudah dicari. Soal ini, saya memang sempat komplain. Bukan apa-apa. Dibutuhkan hampir satu jam dan sekitar delapan kali bertanya untuk menemukan Dusun Lembarawa. Belum lagi rumah dan warung Blengong Goreng Atmo dan Sairoh, tidak terletak di pinggir jalan, tapi di tengah perkampungan yang sama sekali tidak dipasangi petunjuk kecuali spanduk plastik sederhana di dinding warung – yang akhirnya hampir tidak ada gunanya.

Tapi sebagai sebuah pengalaman memanjakan lidah, Blengong Goreng ini layak untuk dicari. Kata orang yang sudah mencicipi Blengong Goreng, kelezatan Blengong bisa membuat Anda bengong. Dan itu terjadi pada saya, diujung menyantap Blengong Goreng dengan sepiring nasi hangat, lalap, sambal dan sepoci teh Wasgitel. Penyebabnya bukan hanya kelezatan daging si Blengong, tapi karena gigi saya tiba-tiba cenat-cenut.

Syukurlah, ucap saya dalam hati untuk menghibur diri. Mudah-mudahan itu artinya orientasi seksual saya tidak sama dengan si banci yang sulit dicari ini. Aaah… 

Rabu, 07 Maret 2012

DI GUNUNG, NAK... TIDAK ADA TOKO MAKANAN KALAU KALIAN LAPAR!


Hari baru saja berganti, 4 Mei 1976, 12.30 dini hari. Suara gemuruh datang di kejauhan. Perempuan itu tidak bisa mengelak. Longsoran salju terlalu cepat dan mendadak. Ia terkubur hidup-hidup. Meski mencoba bertahan, shock membuatnya tak sadarkan diri. Hanya 6 menit, sebelum seorang sherpa menariknya keluar dari timbunan salju yang membekukan. Terguncang hebat, perempuan itu hanya bisa terdiam, menatap langit biru mengatur napas di udara 6.300 meter dari permukaan laut yang tipis. Hal terakhir yang ia ingat sebelum tak sadarkan diri adalah putri kecilnya yang berumur 3 tahun, Noriko, jauh di seberang lautan. “Gunung mengajarkan saya, “ ucapnya kemudian, “Bahwa hidup tidak boleh disia-siakan!”

Dua belas hari kemudian, dunia mencatat namanya ; Junko Tabei, wanita pertama yang berhasil mendaki Mount Everest, gunung tertinggi di dunia. Tanggalnya, 16 Mei 1975. Umurnya saat itu, 35 tahun.  Seperti semua puncak gunung di dunia – tak peduli berapapun tingginya – tidak ada apa-apa di puncak Everest. Tabei bahkan mengaku, ia tidak lantas dilanda kegembiraan. “Saya hanya senang, tidak harus mendaki lagi,” ucapnya polos. Di puncak itu, Tabei memandang ke bawah. Mengingat nama-nama 14 pendaki wanita Jepang yang berangkat bersamanya dan terkubur bersama saat avalanche datang. “Tidak ada seorangnpun yang tewas. Dan itu yang mendorong saya ke puncak!”


Dilahirkan dengan nama belakang Ishibashi, 22 September 1939, Junko bukan anak perempuan yang sangat sehat. Ada masalah kesehatan pada paru-parunya. Ia lemah dan sakit-sakitan. Pada umur 10 tahun, Junko yang bosan diejek, tiba-tiba saja menemukan dunia baru yang mencengangkan saat darmawisata sekolah. Sebuah gunung menyandera pandangannya. Gunung itu, Asahi kemudia didakinya bersama seorang guru dan beberapa temannya. Setelah itu, ia bersikeras mendaki Chausu“Saat itu, mendaki gunung bukan sebuah pilihan bijak,” paparnya. “Kami baru saja bangkit dari kehancuran dan kami harus lebih khawatir soal apa yang bisa kami makan .”

Tapi Junko tidak menyerah. Ia menyesuaikan diri.

Di bangku kuliah, Junko diam-diam bergabung dengan klub pendaki gunung. Mahasiswa lain mencemoohnya ; menyangka ia bergabung karena ingin mencari jodoh. Junko tidak peduli. Ketika ia berhasil mendaki Fujiyama, seluruh isi kampus tersenyum padanya dengan hormat. Umur 27 tahun ia menikah dengan   Masanobu Tabei, seorang pendaki gunung yang cukup popular di Jepang. Pernikahannya ditentang sang ibu hanya karena Masanobu tidak pernah kuliah. 

Junko kembali menyesuaikan diri. Ia menunjukkan cintanya dengan menjadi istri yang baik seperti adat Jepang. Sang ibu akhirnya menyerah, meski tahu Junko belum menghapus kecintaannya pada gunung dan petualangan.

Bertahun setelah mendaki Everest, Junko Tabei mendatangi Indonesia pada tahun 1992. Wanita mungil ini amat ramah dan rendah hati. Tak berhenti berterima kasih karena sudah diterima dan diizinkan mendaki Cartenz Pyramide. Setelah pendakian itu, ia menjadi Seven Summiter pertama di dunia – wanita pertama yang mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Menjadi orang ke 36 mendaki Everest dan Seven Summiter wanita pertama membuat Junko amat popular dan dihormati. Lagi-lagi, Junko melakukan penyesuaian meski sebenarnya ia tidak pernah menyukai popularitas dan tanggungjawab yang mengikuti popularitas itu. Setelah ekspedisi Everest, Junko menolak sponsorship. “Sponsorship membuat saya merasa mendaki tidak untuk diri saya sendiri. Membuat saya merasa bekerja untuk perusahaan pemberi dana,” ujarnya.

Kini Tabei aktif mengajarkan pentingnya kelestarian alam dan tetap bersemangat mendaki. Mendorong kaum wanita muda Jepang untuk menggapai impian dan cita-cita mereka. Tapi, betapapun hebat pencapaiannya, di rumah, Junko adalah istri dan ibu. Manasobu, sang suami berujar kalau ia bisa saja menghapus semua impian Junko bertahun-tahun lalu. “Ia akan menurut. Percayalah, ia akan menurut dan menjadi ibu rumah tangga biasa,” ujarnya. “Tapi justru karena ia akan menurut yang membuat saya yakin ; ia harus menggapai impiannya!” Manasobu juga menolak anggapan kalau ia seorang suami yang sangat baik dan pengertian. “Bukan soal itu,” ujarnya. “Ini soal ketulusan pada takdir dan hakikat diri kita.” Ia mengatakan bahwa kehebatan Junko adalah kemampuannya dan kemauannya untuk menyesuaikan di diri di saat yang tepat.  “Setelah membuktikan bahwa ia istri dan ibu yang baik, menjadi kewajiban saya untuk mendorongnya menggapai impiannya! Itu naluriah!”

Sang putri, Noriko, berujar singkat soal ibunya, “Sebenarnya, ia bukan pendaki gunung. Ia seorang ibu!” Bagaimana tidak. Pertama kali mengajak Noriko dan adik laki-lakinya, Shinya, mendaki gunung, yang pertama kali diucapkan Junko adalah, “Di gunung, nak… tidak ada toko makanan kalau kalian lapar!”  Lalu? “Ia memasak saat waktu makan dan menyuruh kami menghabiskan makanan kami  tanpa sisa,” ujar Noriko sambil tertawa.  “Kami katakan ; baik ibu! Tidak ada toko makanan kalau bekal kita habis!”

SAKU EMAS BLEU DE GENES


Putri saya, mirip kakeknya. Ia teliti. Bahkan saat ngambek. Pujian yang kami lancarkan untuk merayunya agar tersenyum lagi, harus lengkap. Kalau tidak, ia akan melengkapinya. Dengan bahasanya yang khas seorang anak yang belum genap 2 tahun. Dan, tentu saja, cemberutnya.

Mungkin kelak – pikir saya - ia akan jadi orang yang mencermati hal-hal kecil. Hal-hal tidak penting. Tapi it’s okey nak. Percayalah, tidak ada hal-hal besar tanpa hal-hal kecil. Tidak ada koruptor besar kalau tidak ada uang receh – sebab 1 trilyun tidak akan jadi 1 trilyun kalau kurang 50 perak! Tidak ada saku-saku celana besar – untuk menyimpan uang trilyunan itu, kalau tidak ada saku-saku kecil.

Lho, memangnya ada saku-saku kecil?

Anda sedang memakai celana jeans? Coba lihat di saku besar bagian depan. Ada saku kecil di situ. Untuk apa ya? Menyimpan uang receh? Untuk gantungan jempol saat Anda kehabisan gaya ketika difoto? Hhah… waktunya Anda belajar soal hal-hal kecil.


Dari saku ini sebenarnya sejarah panjang dan besar sebuah jenis tekstil bernama blue jeans bisa dipahami. Anda tahu dong, blue jeans dipopulerkan oleh Levi Strauss sejak 1880. Hanya 8 tahun setelah ia membawa jeans masuk ke Amerika Serikat. Jadi, yakinlah, jeans bukan bahan pakaian asli  buatan Amerika Serikat. Seyakin batik bukan milik Malay yang siah itu!

Jeans pertama kali dibuat di Genoa, Italia sekitar tahun 1560-an. Celana yang dibuat dari bahan ini biasa dipakai oleh anggota Angkatan Laut. Orang Perancis, menyebut celana ini ‘bleu de Genes’ atau Biru Genoa. Kenapa biru? Ya, karena biasa dipakai seragam Angkatan Laut yang seringkali menggunakan warna biru sebagai warna utama.

Levi Strauss saat itu berusia dua puluh tahunan ketika datang ke California, Amerika Serikat, untuk mengadu nasib sebagai pedagang pakaian. Dagangannya habis. Karena kepepet, ia memotong-motong kain kanvas tendanya. Lalu, membuat beberapa celana dari potongan-potongan kain kanvas itu. Beberapa penambang emas membelinya. Dan menyukainya. Menurut mereka celana Levi Strauss tahan lama dan tidak mudah koyak meski digunakan untuk bekerja berat.

Dasar pedagang, Levi Strauss menangkap peluang ini. Ia lantas memesan Bleu de Genes dari Genoa, mengubah namanya menjadi Blue Jeans, sesuai aksen Amerika Serikat. Dilalah, para penambang emas California makin menyukai celana buatan Levi Strauss. Mereka menyebutnya “those pants of Levi’s” atau “Celananya si Levi”. Selanjutnya... ya Anda benar. Jadilah merek dagang jeans pertama di dunia! Levi Strauss lantas menggandeng Jakob Davis untuk bekerja sama membangun pabrik jeans pertama. Produk mereka yang pertama adalah Levi’s 501. Jadi, maklum saja kalau jenis ini makin mahal sekarang.

Produk-produk awal  memang dikhususkan bagi para penambang emas. Didesign memiliki 5 saku ; dua di depan, dua dibelakang dan 1 saku kecil di saku depan kanan. Untuk apa? Untuk menyimpan butiran-butiran emas kecil yang ditemukan penambang!

Nah, betul kan. Kecil itu bisa mahal! Dan penting!

Saya tidak tahu apakah Anda pernah menggunakan saku kecil ini. Kalau saya sih, biasanya menggunakannya untuk menyimpan uang receh dan flash disk yang selalu saya bawa. Pernah juga saya gunakan untuk meyimpan sebelah kaca dari kaca mata saya yang tiba-tiba lepas. Juga cincin kawin kalau dapat rezeki bertemu narasumber cantik. :p

Kamis, 27 Oktober 2011

KOMODO DAN BANGSA YANG PENUH CURIGA?


Sebenarnya saya hampir menyesal karena sudah mual ikut-ikutan berpolemik soal voting untuk Tujuh Keajaiban Alam yang Baru ini. Sejak awal, saya yakin kalau peristiwa ini akan dijadikan wacana untuk tuduh sana tuduh sini. Kalau beberapa hari lalu saya menggunakan sebuah social media untuk mengajak teman-teman ikut serta, saya sebenarnya hanya ingin tahu, apa yang ada di benak mereka.

Hampir dua puluh tahun yang lalu, pertama kali saya mengunjungi Taman Nasional Komodo. Begitu menginjakan kaki di Labuan Bajo, kota pelabuhan kecil yang eksotis di ujung barat Pulau Flores dan jadi pintu gerbang utama Taman Nasional Komodo, saya langsung jatuh cinta. Pada kesederhanaan suasana. Pada panas udara. Semuanya. Saat berangkat, saya begitu ingin cepat tiba di Pulau Komodo, pulau utama di Taman Nasional yang diresmikan tahun 1980 itu. Enam tahun kemudian, UNESCO menetapkan Taman Nasional ini sebagai World Heritage Site dan Man and Biosphere Reserve. Sebelumnya, WWF dan Conservation International menetapkan sebagai bagian dari Global Conservation Priority Area karena terletak di kawasan Garis Wallacea. Jadi sejak dulu, Taman Nasional Komodo memang sangat popular di kalangan konservatoris dunia ; perorangan maupun lembaga.

                 Komodo ; dari film, craft hingga kartun (foto : Salazad.com. Hollywoodmovie.com, cartooneducation.org)

Pertama kali menginjakan kaki di Pulau Komodo, saya terkesima. Pulau itu eksotik luar biasa – untuk seorang manusia bodoh berumur 20 tahunan. Bentang alamnya berbukit-bukit, dihiasi hutan sabana-stepa yang tidak ada di pulau tempat asal saya, Jawa. Udaranya panas menyengat, namun hembusan angin laut, mampu menyejukkan hawa panas itu. Sepanjang jalan menuju Balai Taman Nasional di Loh Liang, saya tak henti-hentinya menggunakan kamera saya, meski tahu kalau apa yang saya lihat saat itu bukanlah atraksi utama yang ditawarkan Taman Nasional ini.

Begitulah. Empat hari selanjutnya, saya jatuh cinta tiap hari. Dan seperti kebanyakan manusia pengelana yang beruntung bisa melihat langsung paradok alam itu, saya merasa sangat beruntung. Ada semacam desakan dalam diri saya untuk meyakinkan diri bahwa keindahan dan kedahsyatan itu memang sengaja diciptakan Tuhan untuk manusia dengan tujuan tertentu. Entah apa.

Jadi, ketika berita Taman Nasional ini masuk menjadi peserta The New Seven Wonders of Nature bersama Danau Toba dan Krakatau, saya tersenyum. Ketiga-tiganya memang luar biasa. Krakatau adalah pulau vulkanik aktif. Dulu berbentuk gunung namun musnah oleh letusannya sendiri. Anda pasti sudah banyak mendengar soal kedahsyatan Krakatau ini. Lalu, Danau Toba. Ini juga gunung berapi. Meletus 3 kali antara 800-74 ribu tahun lalu. Danau Toba yang kita kenal sekarang adalah kaldera yang tercapta dari 3 letusan gunung raksasa itu. Terakhir, kawasan Taman Nasional Komodo, satu-satunya tempat di dunia yang menjadi habitat Varanus komodoensis.

Kalau tergantung saya, ketiga-tiganya harus jadi finalis.

Coba saja Anda perhatikan profil ke-28 finalis pemilihan ini. Ada beberapa yang menurut saya tidak layak atau masih kalah dahsyat dibanding ketiga keajaiban alam kita. Kalau ternyata hanya Komodo yang bisa masuk, ada beberapa penyebab. Yang pertama, Komodo memang sangat unik. Ia tidak ada duanya. Berbeda dengan Krakatau dan Toba yang ternyata punya beberapa pesaing. Kalau soal letusan, Krakatau kalah oleh Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Bahkan oleh letusan Gunung Tambora di Sumbawa pun, Krakatau ‘belum seberapa’. Sedangkan Toba fakta ilmiahnya masih harus dibuktikan. Memang makin banyak ahli yang setuju pada teori gunung berapi raksasa. Namun kata sepakatnya belum tercapai.

Jadi, meski kecewa, saya tetap tersenyum. Komodo, ujar saya dalam hati. Salah satu dari Tujuh Keajaiban Alam Dunia. Wow!

Pentingkah itu? Perlukah itu?

Tergantung siapa Anda. Untuk soal ini, saya sama sekali tidak tahu. Jadi saya tidak akan berkomentar apa-apa.

Bagi saya, bukan soal penting atau perlu. Bukan soal uang atau keuntungan. Bukan soal konservasi, pariwisata atau marjinalisasi. Bukan soal konspirasi atau transparansi. Bukan soal nasionalisme, globalisasi atau sukuisme. Bukan soal tetek bengek voting, short message service atau e-mail. Ini bahkan bukan soal Komodo! Ini soal kita. Bangsa kita, yang entah mengapa – mudah-mudahan saya salah – cenderung menjadi bangsa yang penuh curiga. Bangsa yang mendadak begitu ahli mencari-cari celah untuk mendapatkan sisi mencurigakan dari suatu masalah atau peristiwa. Bangsa yang tiba-tiba saja kehilangan semangat untuk berprasangka baik. Sebagai jurnalis, saya dilatih untuk itu ; mencari ketidaknormalan. Namun bukan dengan curiga atau prasangka buruk yang seringkali mengaburkan logika. Sebagai jurnalis saya dilatih untuk bersikap skeptis ; tidak mudah percaya namun tidak mudah pula menolak. Dasar untuk menerima atau menolak hanya satu ; fakta. Dan fakta itu, haruslah memiliki bukti yang lantas diuji.

Wajarlah kalau saya sedih membaca bagaimana tulisan dengan tema konservasi, konspirasi, marjinalisasi, nasionalisme dan sebagainya muncul mewarnai polemik ini. Padahal, tidak ada satu pun yang dengan jelas menunjukan fakta-fakta dan bukti-bukti bahwa isi tulisannya patut dipercaya. Walhasil, dukungan atau penolakan dari pembaca pun ikut-ikut ngawur. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya punya semua bukti dan fakta. Namun begitu ngawur-nya kebanyakan tulisan itu, hingga saya terheran-heran ; tidak ikut pun semua orang di dunia sudah tahu kalau komodo adalah kadal raksasa dan hewan prasejarah satu-satunya yang masih hidup! Jangan-jangan nanti kawasannya malah jadi rusak!

Wah!

Lalu ada yang seperti ini ; ini ide cemerlang mereka untuk masuk dan menguasai kekayaan Indonesia! Memang bangsa Indonesia mudah sekali dipermainkan nasionalismenya! Belajar saja dari kasus Candi Borobudur! Banyak cerita sedihnya dari pada senangnya!

Atau, ini ; saya makin yakin ada kongkalikong dan konspirasi bisnis terutama setelah saya tahu kalau penyelenggara kegiatan ini adalah lembaga bisnis semata. Mengapa penyelenggaranya bukan UNESCO atau PBB? Mencurigakan!

Juga yang ini ; daripada dipakai sms mending buat ngangkring atau membantu mengentaskan kemiskinan! Masih banyak orang kelaparan kok malah ngurusin komodo!

Betul kata Nabi saya ; ketika kau memelihara prasangka baik, dunia ini menjadi luas tak terkira. Tapi sebaliknya, jika prasangka buruk yang kau gunakan, dunia akan menyempit hingga dadamu terasa sesak!

Awalnya saya terpancing juga menjawab dengan mengemukakan pikiran cetek yang ada di kepala saya ; bung, Komodo bukan satu-satunya kadal raksasa! Bukan satu-satunya hewan prasejarah yang masih hidup! Juragan-juragan, Anda orang Ba*** kan? Orang Su*** bukan? Kalau Danau Toba dan Krakatau yang terpilih, juragan-juragan yakin nggak ikut voting? Nasionalisme itu memang tujuannya apa sih selain dipermainkan? Mbak, tahu tidak konspirasi terbesar di dunia yang terjadi tiap jam, tiap hari, tiap minggu dan Anda terjebak di dalamnya, menikmatinya, tergantung padanya, memujanya tanpa merasa menjadi korban bahkan merasa terbantu? Mas, memang kalau UNESCO atau PBB pasti benar dan tidak minta uang? UNESCO dan PBB yang mana ya yang tidak minta uang? Pak, bu, dik, kak,… sebenarnya cara apakah yang paling mujarab untuk mengentaskan kemiskinan dan kelaparan? Apakah karena masih ada orang miskin dan lapar di dunia ini, maka kehidupan lain tidak boleh berjalan?

Betul bukan! Saya pun ikut menjadi cetek!

Haruskah saya jelaskan kecetekan pikiran saya tadi? Nggak usahlah. Saya mau sms anak saya dulu ; Selamat malam Bthari sayang. Tidur yang nyenyak ya nak…