Awalnya
begini ; seekor bebek pejantan, mungkin sedang kehilangan daya tarik
seksualnya. Jadi, tidak ada seekorpun bebek betina yang mau dibuahi. Berabe
nih, pikir si pejantan risau. Masalahnya musim kawin sudah hampir lewat.
Sementara berkwek-kwek menarik perhatian para betina, mendadak serombongan
entog betina lewat. Anda tahu dong entog. Beda dengan bebek yang berjalan
cepat, para entog biasa berjalan santai, sambil menggoyang-goyangkan tubuh dan
ekor mereka.
Lirik
punya lirik, goyangan para entog itu menarik perhatian si pejantan. Masa bodoh
ah, pikirnya. Nggak ada bebek, entog pun jadi. Tanpa banyak kwek-kwek, si
pejantan langsung pasang bebek-beb... eh, kuda-kuda. Berhubung tidak menyangka akan “dilecehkan
secara seksual”, para entog itu hanya bisa pasrah. Dan, begitulah… Singkat
cerita, entog-entog itu bertelur. Saat menetas, dari telur-telur itu muncul
bebek-bebek muda. Biasanya bulu-bulu halus mereka berwarna coklat muda. Tapi
ada beberapa yang berwarna beda ; pada bulu berwarna kecoklatan itu terdapat semburat putih dan juga kuning. Para entog
tidak menaruh curiga. Namanya juga interasial, ucap mereka dalam hati. Pasti
ada yang berbeda. Lagipula, perbedaan itu indah bukan?
Beberapa
bulan kemudian, bebek-bebek berwarna beda ini mulai menampakan perbedaan lain.
Mereka enggan kawin padahal umur mereka sudah cukup untuk itu. Meski berbeda orientasi seksual, tapi para bebek frigid ini tetap bergaul bersama
bebek lain. Mencari makan sambil bergosip atau berkomentar soal Pemilukada. Para
bebek memang tidak peduli. Tapi si pemilik punya pikiran lain. Jika tidak mau
kawin, berarti tidak bisa bertelur. Lha, lantas apa nilai ekonominya? Ya, tidak
lain, dagingnya. Seekor bebek yang sial pun ditangkap. Hidupnya selesai di
ujung pisau sang pemilik yang lantas menggoreng dagingnya. Dilalah, rasanya
lezat! Lebih lezat dari daging bebek biasa. Dan tidak berbau amis. Maka, cerita
tentang daging lezat bebek unik ini pun tersebar…
Baiklah,
saya akui, itu cerita imajinasi saya saja. Tapi soal bebek dan entog serta
keturunan silang mereka serta kelezatan dagingnya, fakta adanya. Bisa dicoba.
Nama bebek persilangan itu Blengong. Itu nama umum di Brebes, kabupaten yang
memang menjadi sentra peternakan bebek dan telur asin. Di daerah lain, nama
bebek silang ini berbeda.
Adalah
pasangan Atmo dan Sairoh, penduduk Dusun Lembarawa, Brebes yang memutuskan
untuk berjualan Blengong Goreng. Dipadu bumbu yang diracik sendiri, Blengong Goreng mereka
terkenal seantero Brebes bahkan hingga Semarang dan Surabaya.Bupati, Camat dan
petinggi Pemerintah Daerah lainnya, kerap menyambangi rumah - yang mereka sulap
menjadi warung sederhana – untuk menikmati Blengong Goreng mereka. Sebanyak 50
ekor Blengong bisa habis hanya dalam waktu 3 hari. Padahal, dibanding harga
daging bebek, harga daging Blengong relatif lebih mahal. “Kalau sedang ramai,
tidak jarang kami kehabisan stok,” aku mereka.
Lho,
kenapa tidak diternak saja sih?
Ya
ndak bisa mas, jawab mereka dalam logat Pantai Utara Jawa yang kental. Blengong
itu bebek bencong. Banci. Mereka tidak mau kawin. Oke, kalau begitu kawinkan
saja bebek dan entog secara teratur. Ya, ndak bisa juga mas. Pertama mereka
belum tentu klik… chemical reaction-nya belum tentu cocok. Okelah, cinta (dan
nafsu) itu buta. Tapi nggak gitu-gitu amat kali… Lagipula, dari tiap telur yang
dihasilkan oleh perkawinan silang itu, belum tentu lahir Blengong. Bisa saja
lahir bebek sejati, yang straight sex oriented.
Oke.
Jadi ini soal takdir. Maksud saya, ini soal bisnis kecil kuliner yang berbasis
pada takdir!
Jadi wajar saja kalau Atmo dan Sairoh
memutuskan untuk tidak mengikuti pakem umum dalam dunia bisnis. Mereka tidak
ingin mengembangkan bisnis mereka ke skala yang lebih besar, mereka bahkan
enggan untuk, misalnya membuat warung di tengah kota Brebes sehingga mudah
dicari. Soal ini, saya memang sempat komplain. Bukan apa-apa. Dibutuhkan hampir
satu jam dan sekitar delapan kali bertanya untuk menemukan Dusun Lembarawa.
Belum lagi rumah dan warung Blengong Goreng Atmo dan Sairoh, tidak terletak di
pinggir jalan, tapi di tengah perkampungan yang sama sekali tidak dipasangi
petunjuk kecuali spanduk plastik sederhana di dinding warung – yang akhirnya
hampir tidak ada gunanya.
Tapi
sebagai sebuah pengalaman memanjakan lidah, Blengong Goreng ini layak untuk
dicari. Kata orang yang sudah mencicipi Blengong Goreng, kelezatan Blengong
bisa membuat Anda bengong. Dan itu terjadi pada saya, diujung menyantap
Blengong Goreng dengan sepiring nasi hangat, lalap, sambal dan sepoci teh Wasgitel.
Penyebabnya bukan hanya kelezatan daging si Blengong, tapi karena gigi saya
tiba-tiba cenat-cenut.
Syukurlah,
ucap saya dalam hati untuk menghibur diri. Mudah-mudahan itu artinya orientasi
seksual saya tidak sama dengan si banci yang sulit dicari ini. Aaah…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar