Kamis, 08 Maret 2012

SI BANCI YANG SULIT DICARI

Awalnya begini ; seekor bebek pejantan, mungkin sedang kehilangan daya tarik seksualnya. Jadi, tidak ada seekorpun bebek betina yang mau dibuahi. Berabe nih, pikir si pejantan risau. Masalahnya musim kawin sudah hampir lewat. Sementara berkwek-kwek menarik perhatian para betina, mendadak serombongan entog betina lewat. Anda tahu dong entog. Beda dengan bebek yang berjalan cepat, para entog biasa berjalan santai, sambil menggoyang-goyangkan tubuh dan ekor mereka.

Lirik punya lirik, goyangan para entog itu menarik perhatian si pejantan. Masa bodoh ah, pikirnya. Nggak ada bebek, entog pun jadi. Tanpa banyak kwek-kwek, si pejantan langsung pasang bebek-beb... eh, kuda-kuda. Berhubung tidak menyangka akan “dilecehkan secara seksual”, para entog itu hanya bisa pasrah. Dan, begitulah… Singkat cerita, entog-entog itu bertelur. Saat menetas, dari telur-telur itu muncul bebek-bebek muda. Biasanya bulu-bulu halus mereka berwarna coklat muda. Tapi ada beberapa yang berwarna beda ; pada bulu berwarna kecoklatan itu terdapat semburat putih dan juga kuning. Para entog tidak menaruh curiga. Namanya juga interasial, ucap mereka dalam hati. Pasti ada yang berbeda. Lagipula, perbedaan itu indah bukan?

Beberapa bulan kemudian, bebek-bebek berwarna beda ini mulai menampakan perbedaan lain. Mereka enggan kawin padahal umur mereka sudah cukup untuk itu. Meski berbeda orientasi seksual, tapi para bebek frigid ini tetap bergaul bersama bebek lain. Mencari makan sambil bergosip atau berkomentar soal Pemilukada. Para bebek memang tidak peduli. Tapi si pemilik punya pikiran lain. Jika tidak mau kawin, berarti tidak bisa bertelur. Lha, lantas apa nilai ekonominya? Ya, tidak lain, dagingnya. Seekor bebek yang sial pun ditangkap. Hidupnya selesai di ujung pisau sang pemilik yang lantas menggoreng dagingnya. Dilalah, rasanya lezat! Lebih lezat dari daging bebek biasa. Dan tidak berbau amis. Maka, cerita tentang daging lezat bebek unik ini pun tersebar…

Baiklah, saya akui, itu cerita imajinasi saya saja. Tapi soal bebek dan entog serta keturunan silang mereka serta kelezatan dagingnya, fakta adanya. Bisa dicoba. Nama bebek persilangan itu Blengong. Itu nama umum di Brebes, kabupaten yang memang menjadi sentra peternakan bebek dan telur asin. Di daerah lain, nama bebek silang ini berbeda.



Adalah pasangan Atmo dan Sairoh, penduduk Dusun Lembarawa, Brebes yang memutuskan untuk berjualan Blengong Goreng. Dipadu bumbu yang diracik sendiri, Blengong Goreng mereka terkenal seantero Brebes bahkan hingga Semarang dan Surabaya.Bupati, Camat dan petinggi Pemerintah Daerah lainnya, kerap menyambangi rumah - yang mereka sulap menjadi warung sederhana – untuk menikmati Blengong Goreng mereka. Sebanyak 50 ekor Blengong bisa habis hanya dalam waktu 3 hari. Padahal, dibanding harga daging bebek, harga daging Blengong relatif lebih mahal. “Kalau sedang ramai, tidak jarang kami kehabisan stok,” aku mereka.

Lho, kenapa tidak diternak saja sih?

Ya ndak bisa mas, jawab mereka dalam logat Pantai Utara Jawa yang kental. Blengong itu bebek bencong. Banci. Mereka tidak mau kawin. Oke, kalau begitu kawinkan saja bebek dan entog secara teratur. Ya, ndak bisa juga mas. Pertama mereka belum tentu klik… chemical reaction-nya belum tentu cocok. Okelah, cinta (dan nafsu) itu buta. Tapi nggak gitu-gitu amat kali… Lagipula, dari tiap telur yang dihasilkan oleh perkawinan silang itu, belum tentu lahir Blengong. Bisa saja lahir bebek sejati, yang straight sex oriented.

Oke. Jadi ini soal takdir. Maksud saya, ini soal bisnis kecil kuliner yang berbasis pada takdir!

Jadi wajar saja kalau Atmo dan Sairoh memutuskan untuk tidak mengikuti pakem umum dalam dunia bisnis. Mereka tidak ingin mengembangkan bisnis mereka ke skala yang lebih besar, mereka bahkan enggan untuk, misalnya membuat warung di tengah kota Brebes sehingga mudah dicari. Soal ini, saya memang sempat komplain. Bukan apa-apa. Dibutuhkan hampir satu jam dan sekitar delapan kali bertanya untuk menemukan Dusun Lembarawa. Belum lagi rumah dan warung Blengong Goreng Atmo dan Sairoh, tidak terletak di pinggir jalan, tapi di tengah perkampungan yang sama sekali tidak dipasangi petunjuk kecuali spanduk plastik sederhana di dinding warung – yang akhirnya hampir tidak ada gunanya.

Tapi sebagai sebuah pengalaman memanjakan lidah, Blengong Goreng ini layak untuk dicari. Kata orang yang sudah mencicipi Blengong Goreng, kelezatan Blengong bisa membuat Anda bengong. Dan itu terjadi pada saya, diujung menyantap Blengong Goreng dengan sepiring nasi hangat, lalap, sambal dan sepoci teh Wasgitel. Penyebabnya bukan hanya kelezatan daging si Blengong, tapi karena gigi saya tiba-tiba cenat-cenut.

Syukurlah, ucap saya dalam hati untuk menghibur diri. Mudah-mudahan itu artinya orientasi seksual saya tidak sama dengan si banci yang sulit dicari ini. Aaah… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar