Kamis, 08 Maret 2012

KAMI TIDAK BOLEH TIDAK DIDENGAR!


Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yang terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morgan Geisler, Michelle Quiq dan saya sendiri.

Kami menggalang dana untuk bisa datang ke sini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada Anda sekalian, orang dewasa, bahwa Anda harus mengubah cara Anda, hari ini, di sini. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya memperjuangkan masa depan saya. Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang.

Saya berada di sini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.
Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya.
Kami tidak boleh tidak di dengar!

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan ozon. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya dijangkiti kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut  masih ada untuk dilihat oleh anak saya nanti.

Apakah Anda sekalian khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika Anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin Anda sekalian menyadari bahwa Anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan Salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.

Jika Anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Tolong berhenti merusaknya!

Di sini Anda adalah delegasi negara-negara Anda.
Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya Anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan Anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan pemborosan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya. Beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara maju tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita. Kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang cukup - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil ini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Salah satu anak tersebut berkata kepada kami: “Aku berharap aku kaya. Dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”

Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya. Bahwa tempat kelahiran Anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang Timur Tengah atau pengemis di India.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di Taman Kanak-Kanak, Anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak.

Lalu mengapa Anda kemudian melakukan hal yang Anda ajarkan pada kami supaya tidak  dilakukan itu?

Jangan lupakan mengapa Anda menghadiri konferensi ini. Mengapa Anda melakukan hal ini ;  kami adalah anak-anak anda semua.
Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan “Semuanya akan baik-baik saja”,
“Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan” dan 
“Ini bukanlah akhir dari segalanya”.

Tetapi saya tidak merasa bahwa Anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas Anda semua?

Ayah saya selalu berkata “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu bukan oleh kata-katamu.”
Apa yang Anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.
Sekarang, saya menantang Anda, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Terima kasih atas perhatiannya.





Severn Cullis-Suzuki, lahir di Vancouver, Kanada pada 30 November 1979, berusia 12 tahun ketika ia berpidato di Konferensi Bumi Perserikatan Bangsa-Bangsa – UN Earth Summit, di Rio de Janerio, Brazil 1992. Pidato tanpa teks selama 6 menit itu membungkam ruang  konferensi, sebelum di akhir pidato, seluruh peserta berdiri dan memberinya standing-ovation. Video rekaman pidato ini ditonton lebih dari 4.7 juta kali di YouTube.
Kini, ia berusia 33 tahun, menikah dan  memiliki anak dan menjadi aktivis lingkungan hidup. Ia menamatkan kuliahnya di Yale University jurusan Ekologi dan Biologi Evolusioner. Buku pendeknya berjudul Tell The World, berisi pidato dan kisahnya mendirikan ECO - ia mendirikan ECO saat berusia 9 tahun.. Ia juga ikut membidani Skyfish Project, sebuah lembaga think-tank untuk masalah lingkungan hidup.


SI BANCI YANG SULIT DICARI

Awalnya begini ; seekor bebek pejantan, mungkin sedang kehilangan daya tarik seksualnya. Jadi, tidak ada seekorpun bebek betina yang mau dibuahi. Berabe nih, pikir si pejantan risau. Masalahnya musim kawin sudah hampir lewat. Sementara berkwek-kwek menarik perhatian para betina, mendadak serombongan entog betina lewat. Anda tahu dong entog. Beda dengan bebek yang berjalan cepat, para entog biasa berjalan santai, sambil menggoyang-goyangkan tubuh dan ekor mereka.

Lirik punya lirik, goyangan para entog itu menarik perhatian si pejantan. Masa bodoh ah, pikirnya. Nggak ada bebek, entog pun jadi. Tanpa banyak kwek-kwek, si pejantan langsung pasang bebek-beb... eh, kuda-kuda. Berhubung tidak menyangka akan “dilecehkan secara seksual”, para entog itu hanya bisa pasrah. Dan, begitulah… Singkat cerita, entog-entog itu bertelur. Saat menetas, dari telur-telur itu muncul bebek-bebek muda. Biasanya bulu-bulu halus mereka berwarna coklat muda. Tapi ada beberapa yang berwarna beda ; pada bulu berwarna kecoklatan itu terdapat semburat putih dan juga kuning. Para entog tidak menaruh curiga. Namanya juga interasial, ucap mereka dalam hati. Pasti ada yang berbeda. Lagipula, perbedaan itu indah bukan?

Beberapa bulan kemudian, bebek-bebek berwarna beda ini mulai menampakan perbedaan lain. Mereka enggan kawin padahal umur mereka sudah cukup untuk itu. Meski berbeda orientasi seksual, tapi para bebek frigid ini tetap bergaul bersama bebek lain. Mencari makan sambil bergosip atau berkomentar soal Pemilukada. Para bebek memang tidak peduli. Tapi si pemilik punya pikiran lain. Jika tidak mau kawin, berarti tidak bisa bertelur. Lha, lantas apa nilai ekonominya? Ya, tidak lain, dagingnya. Seekor bebek yang sial pun ditangkap. Hidupnya selesai di ujung pisau sang pemilik yang lantas menggoreng dagingnya. Dilalah, rasanya lezat! Lebih lezat dari daging bebek biasa. Dan tidak berbau amis. Maka, cerita tentang daging lezat bebek unik ini pun tersebar…

Baiklah, saya akui, itu cerita imajinasi saya saja. Tapi soal bebek dan entog serta keturunan silang mereka serta kelezatan dagingnya, fakta adanya. Bisa dicoba. Nama bebek persilangan itu Blengong. Itu nama umum di Brebes, kabupaten yang memang menjadi sentra peternakan bebek dan telur asin. Di daerah lain, nama bebek silang ini berbeda.



Adalah pasangan Atmo dan Sairoh, penduduk Dusun Lembarawa, Brebes yang memutuskan untuk berjualan Blengong Goreng. Dipadu bumbu yang diracik sendiri, Blengong Goreng mereka terkenal seantero Brebes bahkan hingga Semarang dan Surabaya.Bupati, Camat dan petinggi Pemerintah Daerah lainnya, kerap menyambangi rumah - yang mereka sulap menjadi warung sederhana – untuk menikmati Blengong Goreng mereka. Sebanyak 50 ekor Blengong bisa habis hanya dalam waktu 3 hari. Padahal, dibanding harga daging bebek, harga daging Blengong relatif lebih mahal. “Kalau sedang ramai, tidak jarang kami kehabisan stok,” aku mereka.

Lho, kenapa tidak diternak saja sih?

Ya ndak bisa mas, jawab mereka dalam logat Pantai Utara Jawa yang kental. Blengong itu bebek bencong. Banci. Mereka tidak mau kawin. Oke, kalau begitu kawinkan saja bebek dan entog secara teratur. Ya, ndak bisa juga mas. Pertama mereka belum tentu klik… chemical reaction-nya belum tentu cocok. Okelah, cinta (dan nafsu) itu buta. Tapi nggak gitu-gitu amat kali… Lagipula, dari tiap telur yang dihasilkan oleh perkawinan silang itu, belum tentu lahir Blengong. Bisa saja lahir bebek sejati, yang straight sex oriented.

Oke. Jadi ini soal takdir. Maksud saya, ini soal bisnis kecil kuliner yang berbasis pada takdir!

Jadi wajar saja kalau Atmo dan Sairoh memutuskan untuk tidak mengikuti pakem umum dalam dunia bisnis. Mereka tidak ingin mengembangkan bisnis mereka ke skala yang lebih besar, mereka bahkan enggan untuk, misalnya membuat warung di tengah kota Brebes sehingga mudah dicari. Soal ini, saya memang sempat komplain. Bukan apa-apa. Dibutuhkan hampir satu jam dan sekitar delapan kali bertanya untuk menemukan Dusun Lembarawa. Belum lagi rumah dan warung Blengong Goreng Atmo dan Sairoh, tidak terletak di pinggir jalan, tapi di tengah perkampungan yang sama sekali tidak dipasangi petunjuk kecuali spanduk plastik sederhana di dinding warung – yang akhirnya hampir tidak ada gunanya.

Tapi sebagai sebuah pengalaman memanjakan lidah, Blengong Goreng ini layak untuk dicari. Kata orang yang sudah mencicipi Blengong Goreng, kelezatan Blengong bisa membuat Anda bengong. Dan itu terjadi pada saya, diujung menyantap Blengong Goreng dengan sepiring nasi hangat, lalap, sambal dan sepoci teh Wasgitel. Penyebabnya bukan hanya kelezatan daging si Blengong, tapi karena gigi saya tiba-tiba cenat-cenut.

Syukurlah, ucap saya dalam hati untuk menghibur diri. Mudah-mudahan itu artinya orientasi seksual saya tidak sama dengan si banci yang sulit dicari ini. Aaah… 

Rabu, 07 Maret 2012

DI GUNUNG, NAK... TIDAK ADA TOKO MAKANAN KALAU KALIAN LAPAR!


Hari baru saja berganti, 4 Mei 1976, 12.30 dini hari. Suara gemuruh datang di kejauhan. Perempuan itu tidak bisa mengelak. Longsoran salju terlalu cepat dan mendadak. Ia terkubur hidup-hidup. Meski mencoba bertahan, shock membuatnya tak sadarkan diri. Hanya 6 menit, sebelum seorang sherpa menariknya keluar dari timbunan salju yang membekukan. Terguncang hebat, perempuan itu hanya bisa terdiam, menatap langit biru mengatur napas di udara 6.300 meter dari permukaan laut yang tipis. Hal terakhir yang ia ingat sebelum tak sadarkan diri adalah putri kecilnya yang berumur 3 tahun, Noriko, jauh di seberang lautan. “Gunung mengajarkan saya, “ ucapnya kemudian, “Bahwa hidup tidak boleh disia-siakan!”

Dua belas hari kemudian, dunia mencatat namanya ; Junko Tabei, wanita pertama yang berhasil mendaki Mount Everest, gunung tertinggi di dunia. Tanggalnya, 16 Mei 1975. Umurnya saat itu, 35 tahun.  Seperti semua puncak gunung di dunia – tak peduli berapapun tingginya – tidak ada apa-apa di puncak Everest. Tabei bahkan mengaku, ia tidak lantas dilanda kegembiraan. “Saya hanya senang, tidak harus mendaki lagi,” ucapnya polos. Di puncak itu, Tabei memandang ke bawah. Mengingat nama-nama 14 pendaki wanita Jepang yang berangkat bersamanya dan terkubur bersama saat avalanche datang. “Tidak ada seorangnpun yang tewas. Dan itu yang mendorong saya ke puncak!”


Dilahirkan dengan nama belakang Ishibashi, 22 September 1939, Junko bukan anak perempuan yang sangat sehat. Ada masalah kesehatan pada paru-parunya. Ia lemah dan sakit-sakitan. Pada umur 10 tahun, Junko yang bosan diejek, tiba-tiba saja menemukan dunia baru yang mencengangkan saat darmawisata sekolah. Sebuah gunung menyandera pandangannya. Gunung itu, Asahi kemudia didakinya bersama seorang guru dan beberapa temannya. Setelah itu, ia bersikeras mendaki Chausu“Saat itu, mendaki gunung bukan sebuah pilihan bijak,” paparnya. “Kami baru saja bangkit dari kehancuran dan kami harus lebih khawatir soal apa yang bisa kami makan .”

Tapi Junko tidak menyerah. Ia menyesuaikan diri.

Di bangku kuliah, Junko diam-diam bergabung dengan klub pendaki gunung. Mahasiswa lain mencemoohnya ; menyangka ia bergabung karena ingin mencari jodoh. Junko tidak peduli. Ketika ia berhasil mendaki Fujiyama, seluruh isi kampus tersenyum padanya dengan hormat. Umur 27 tahun ia menikah dengan   Masanobu Tabei, seorang pendaki gunung yang cukup popular di Jepang. Pernikahannya ditentang sang ibu hanya karena Masanobu tidak pernah kuliah. 

Junko kembali menyesuaikan diri. Ia menunjukkan cintanya dengan menjadi istri yang baik seperti adat Jepang. Sang ibu akhirnya menyerah, meski tahu Junko belum menghapus kecintaannya pada gunung dan petualangan.

Bertahun setelah mendaki Everest, Junko Tabei mendatangi Indonesia pada tahun 1992. Wanita mungil ini amat ramah dan rendah hati. Tak berhenti berterima kasih karena sudah diterima dan diizinkan mendaki Cartenz Pyramide. Setelah pendakian itu, ia menjadi Seven Summiter pertama di dunia – wanita pertama yang mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Menjadi orang ke 36 mendaki Everest dan Seven Summiter wanita pertama membuat Junko amat popular dan dihormati. Lagi-lagi, Junko melakukan penyesuaian meski sebenarnya ia tidak pernah menyukai popularitas dan tanggungjawab yang mengikuti popularitas itu. Setelah ekspedisi Everest, Junko menolak sponsorship. “Sponsorship membuat saya merasa mendaki tidak untuk diri saya sendiri. Membuat saya merasa bekerja untuk perusahaan pemberi dana,” ujarnya.

Kini Tabei aktif mengajarkan pentingnya kelestarian alam dan tetap bersemangat mendaki. Mendorong kaum wanita muda Jepang untuk menggapai impian dan cita-cita mereka. Tapi, betapapun hebat pencapaiannya, di rumah, Junko adalah istri dan ibu. Manasobu, sang suami berujar kalau ia bisa saja menghapus semua impian Junko bertahun-tahun lalu. “Ia akan menurut. Percayalah, ia akan menurut dan menjadi ibu rumah tangga biasa,” ujarnya. “Tapi justru karena ia akan menurut yang membuat saya yakin ; ia harus menggapai impiannya!” Manasobu juga menolak anggapan kalau ia seorang suami yang sangat baik dan pengertian. “Bukan soal itu,” ujarnya. “Ini soal ketulusan pada takdir dan hakikat diri kita.” Ia mengatakan bahwa kehebatan Junko adalah kemampuannya dan kemauannya untuk menyesuaikan di diri di saat yang tepat.  “Setelah membuktikan bahwa ia istri dan ibu yang baik, menjadi kewajiban saya untuk mendorongnya menggapai impiannya! Itu naluriah!”

Sang putri, Noriko, berujar singkat soal ibunya, “Sebenarnya, ia bukan pendaki gunung. Ia seorang ibu!” Bagaimana tidak. Pertama kali mengajak Noriko dan adik laki-lakinya, Shinya, mendaki gunung, yang pertama kali diucapkan Junko adalah, “Di gunung, nak… tidak ada toko makanan kalau kalian lapar!”  Lalu? “Ia memasak saat waktu makan dan menyuruh kami menghabiskan makanan kami  tanpa sisa,” ujar Noriko sambil tertawa.  “Kami katakan ; baik ibu! Tidak ada toko makanan kalau bekal kita habis!”

SAKU EMAS BLEU DE GENES


Putri saya, mirip kakeknya. Ia teliti. Bahkan saat ngambek. Pujian yang kami lancarkan untuk merayunya agar tersenyum lagi, harus lengkap. Kalau tidak, ia akan melengkapinya. Dengan bahasanya yang khas seorang anak yang belum genap 2 tahun. Dan, tentu saja, cemberutnya.

Mungkin kelak – pikir saya - ia akan jadi orang yang mencermati hal-hal kecil. Hal-hal tidak penting. Tapi it’s okey nak. Percayalah, tidak ada hal-hal besar tanpa hal-hal kecil. Tidak ada koruptor besar kalau tidak ada uang receh – sebab 1 trilyun tidak akan jadi 1 trilyun kalau kurang 50 perak! Tidak ada saku-saku celana besar – untuk menyimpan uang trilyunan itu, kalau tidak ada saku-saku kecil.

Lho, memangnya ada saku-saku kecil?

Anda sedang memakai celana jeans? Coba lihat di saku besar bagian depan. Ada saku kecil di situ. Untuk apa ya? Menyimpan uang receh? Untuk gantungan jempol saat Anda kehabisan gaya ketika difoto? Hhah… waktunya Anda belajar soal hal-hal kecil.


Dari saku ini sebenarnya sejarah panjang dan besar sebuah jenis tekstil bernama blue jeans bisa dipahami. Anda tahu dong, blue jeans dipopulerkan oleh Levi Strauss sejak 1880. Hanya 8 tahun setelah ia membawa jeans masuk ke Amerika Serikat. Jadi, yakinlah, jeans bukan bahan pakaian asli  buatan Amerika Serikat. Seyakin batik bukan milik Malay yang siah itu!

Jeans pertama kali dibuat di Genoa, Italia sekitar tahun 1560-an. Celana yang dibuat dari bahan ini biasa dipakai oleh anggota Angkatan Laut. Orang Perancis, menyebut celana ini ‘bleu de Genes’ atau Biru Genoa. Kenapa biru? Ya, karena biasa dipakai seragam Angkatan Laut yang seringkali menggunakan warna biru sebagai warna utama.

Levi Strauss saat itu berusia dua puluh tahunan ketika datang ke California, Amerika Serikat, untuk mengadu nasib sebagai pedagang pakaian. Dagangannya habis. Karena kepepet, ia memotong-motong kain kanvas tendanya. Lalu, membuat beberapa celana dari potongan-potongan kain kanvas itu. Beberapa penambang emas membelinya. Dan menyukainya. Menurut mereka celana Levi Strauss tahan lama dan tidak mudah koyak meski digunakan untuk bekerja berat.

Dasar pedagang, Levi Strauss menangkap peluang ini. Ia lantas memesan Bleu de Genes dari Genoa, mengubah namanya menjadi Blue Jeans, sesuai aksen Amerika Serikat. Dilalah, para penambang emas California makin menyukai celana buatan Levi Strauss. Mereka menyebutnya “those pants of Levi’s” atau “Celananya si Levi”. Selanjutnya... ya Anda benar. Jadilah merek dagang jeans pertama di dunia! Levi Strauss lantas menggandeng Jakob Davis untuk bekerja sama membangun pabrik jeans pertama. Produk mereka yang pertama adalah Levi’s 501. Jadi, maklum saja kalau jenis ini makin mahal sekarang.

Produk-produk awal  memang dikhususkan bagi para penambang emas. Didesign memiliki 5 saku ; dua di depan, dua dibelakang dan 1 saku kecil di saku depan kanan. Untuk apa? Untuk menyimpan butiran-butiran emas kecil yang ditemukan penambang!

Nah, betul kan. Kecil itu bisa mahal! Dan penting!

Saya tidak tahu apakah Anda pernah menggunakan saku kecil ini. Kalau saya sih, biasanya menggunakannya untuk menyimpan uang receh dan flash disk yang selalu saya bawa. Pernah juga saya gunakan untuk meyimpan sebelah kaca dari kaca mata saya yang tiba-tiba lepas. Juga cincin kawin kalau dapat rezeki bertemu narasumber cantik. :p